Internasional

Jumat, 18 Januari 2019 - 12:27 WIB

4 bulan yang lalu

logo

BNP2TKI Mengidentifikasi Ribuan Potensi Loker di Eropa

Delegasi BNP2TKI yang melakukan kunjungan ke Warsawa, Polandia berhasil mengidentifikasi 2.545 peluang kerja pada sektor manufaktur (1.500 peluang), konstruksi (195), hospitality (50) dan transportasi (400 peluang).

Ribuan peluang itu berhasil diidentifikasi setelah delegasi yang disertai perwakilan sembilan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) mengadakan pertemuan di Hotel Regent, Warsawa pada 19 Desember 2018. Pertemuan yang dibuka Kuasa Usaha ad interim KBRI Warsawa itu juga dihadiri 21 Employer/Agency Polandia.

Direktur Promosi BNP2TKI, Dwi Anto menambahkan (Jumat, 18/01/19), EBM berhasil mengidentifikasi kekurangan tenaga kerja pada sektor industri pengolahan ikan, pengemudi truk, sektor perawat dan pembantu perawat serta teknologi informasi di Polandia. Selanjutnya, tugas P3MI untuk menindaklanjuti agar menjadi job order.

Belanda Perlu 100 Ribu Perawat 

Selain Polandia, kata Dwi Anto di ruang kerjanya pada Rabu, 9/1/2019 , delegasi BNP2TKI juga berkunjung ke Belanda dan Jerman. Delegasi diketuai Sestama BNP2TKI Tatang Budie Utama Razak dan disertai Direktur Promosi, Kasubdit Promosi Kawasan Timur Tengah, Afrika dan Eropa, Direktorat Promosi, Kasubdit Kerja Sama Kawasan Timur Tengah, Direktorat Kerjasama Luar Negeri dan staf profesional Sekretaris Utama BNP2TKI.

Di Belanda, delegasi mengadakan pembicaraan dengan Dubes RI untuk Belanda, kunjungan ke perusahaan pelayaran Anthony Veder dan bertemu dengan perwakilan Serikat Pekerja Independen Indonesia Migrants Workers Union (IMWU).

IMWU didirikan oleh WNI pada 2 Januari 2011 berdasarkan solidaritas, kebersamaan dan keterlibatan batin. IMWU memberi pelatihan dan pendidikan, pendampingan ataupun advokasi hukum, kesehatan, pemulangan dan advokasi hak-hak PMI di Belanda.

Banyak anggota IMWU yang ilegal karena mereka dalam penempatannya dilakukan secara mandiri tetapi tidak prosedural hingga mereka banyak yang tertipu, ujar direktur promosi BNP2TKI yang menambahkan PM illegal itu kebanyakan dari Cirebon dan Wonosobo.

Dubes Indonesia untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja juga menyatakan banyak PMI dan diaspora yang sukses di Belanda. Permasalahannya banyak yang tidak terdokumentasi, tetapi sukses dalam bekerja bahkan sampai memperoleh gaji Rp 25 juta per bulan.

Delegasi yang berkunjung ke operator pengangkutan gas Anthony Velder mendapati, 111 PMI berstatus officer,  sepuluh tenaga magang, dua kapten kapal, sembilan chief officer, sepuluh chief engineer dan second engineer sebanyak 12 orang bekerja di perusahaan tersebut.

Diharapkan ke depan, penempatan PMI itu tidak lagi melalui manning agent melainkan langsung ke end user. Kelak penempatan dilakukan berdasarkan skema G to G atau P to P dengan difasilitasi BNP2TKI.

Dari informasi  dosen keperawatan ROC Mandrian, Den Haag diketahui Belanda memerlukan 100 ribu perawat per tahun dengan lingkup kerja RS Umum, RS Jiwa, Rumah Rawat Cacat Fisik dan Mental, Rumah Klinik Revalidasi, Home Care dan Nursing Home. Syaratnya harus melalui Big Registration dengan mengajukan persamaan ijazah, tes pengetahuan dan kompetensi antara lain, penguasaan  bahasa Belanda  dan bahasa Inggris level B1, mengetahui pengetahuan dasar dan istilah keperawatan di Belanda, tes ilmu keperawatan dan ilmu penjurusan. Persiapan tes sampai keluar kelulusan memerlukan waktu 1-2 tahun, tambah Direktur promosi yang didampingi  Kasubdit Kerjasama  Eropa dan Afrika, Joko Purwanto.

Hospitality dan Keperawatan di Jerman

Delegasi BNP2TKI melawat ke Eropa sejak 13 hingga 20 Desember lalu dengan memulai kunjungan ke Belanda, Jerman dan Polandia. Di Jerman, delegasi bersama Konsul Jenderal Indonesia di Hamburg bertemu dengan badan non profit yang dibentuk pemerintah Jerman ( Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zsammenarbeit, GZ) yang terkait perekrutan  dan pelatihan sektor keperawatan. Indonesia belum bekerjasama dengan lembaga tersebut.

Padahal, menurut Direktur Promosi Dwi Anto, pasar tenaga kerja di Jerman terbuka untuk tenaga-tenaga bidang keperawatan,  bisnis kerajinan, hotel dan restoran, fisoterapi, konstruksi dan Teknologi Informasi.

Dalam pertemuan di Bremen dengan diaspora Indonesia yang diketuai Nyonya Dami Frese terungkap, adanya peluang penempatan perawat melalui sekolah vokasi. “Ketika masih sekolah, calon perawat digaji 800 euro dan menjadi 3.000 euro setelah lulus,” tutupnya.

Artikel ini telah dibaca 502 kali

Baca Lainnya